Skip to main content

Ketahanan Emosi

Oleh: SuharsoPada: 2/02/2020

ketahanan emosi

Memang benar. Roda kehidupan terus berputar. Jelas kita tak bisa mengatur sepenuhnya. Banyak hal yang tidak terduga. Suatu saat, bisa saja yang segalanya berjalan baik kemudian berbalik keadaan.

Misalnya di kantor. Anda sudah nyaman dengan tugas Anda selama ini. Lalu tiba-tiba Anda mendapat tugas baru, yang itu merupakan warisan buruk penanggung jawab sebelumnya. Selain Anda harus belajar hal baru dengan cepat, tentu berat dibayangkan jika tugas itu ternyata menyimpan permasalahan yang datang bertubi-tubi dan Anda tidak tahu harus berbuat apa dan mulai dari mana.

Alih-alih menghadapi dengan kepala dingin, emosi negatif yang lebih sering muncul. Hal ini bisa menyebabkan keadaan semakin buruk.

Karena itulah, dunia psikologi mengenalkan konsep ketahanan emosi atau emotional resilience, yang dengannya kita diharapkan mampu menguasai emosi. Lalu membangun strategi positif dan tidak menjadi hancur saat dihadapkan pada kondisi penuh tekanan.

Konon katanya: pasti ada makna di setiap kejadian yang tampaknya negatif. Kita mesti pandai memaknai. Juga mesti mau meluangkan waktu untuk refeksi diri. Kita harus mengikhlaskan agar setiap kejadian itu memperkaya khazanah kehidupan kita.

Dalam setiap tantangan dan permasalahan, akan ada waktunya kita menjumpai penyempurnaan, kebijaksanaan, dan juga kebahagiaan. Begitulah seharusnya perspektif kita dibangun.

Menjaga ketahanan emosi mungkin bukan hal yang mudah. Untuk diketahui, ada empat karakter orang yang memiliki ketahanan emosi seperti ditulis oleh psikolog Ashley Elizabeth dalam artikelnya di lifehack.org.

Pertama, lokus kontrol internal (internal locus of control). Lokus kontrol merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk mengontrol peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Orang dengan lokus kontrol internal meyakini bahwa suatu kejadian merupakan hasil dari kemampuan dan tindakannya sendiri. Mereka merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada diri mereka, entah itu baik ataupun buruk. Selalu ada pilihan untuk merespons tantangan hidup. Mungkin kita tidak memiliki kendali atas keadaan eksternal, namun kita dapat mengendalikan dunia batin kita sendiri.

Kedua, kesadaran diri (self-awareness). Orang yang tangguh secara emosi memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi. Mereka tahu siapa mereka, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang tidak mereka butuhkan. Karena itu, mereka terampil menyelami pesan-pesan dari tubuh mereka. Jika sesuatu terasa tidak enak, mereka menyesuaikan keadaan sehingga ditemukan kembali pusat keseimbangannya. Orang yang tangguh menggunakan kesadaran diri sebagai alat untuk lebih memahami pikiran dan perilaku mereka sendiri, sehingga mereka mampu menulis ulang cerita lama yang dirasa tidak menyenangkan lagi.

Ketiga, ketekunan (perseverance). Orang yang tangguh tak pernah merasa puas dalam mencapai kesuksesan. Jika tidak dapat menemukan jalan, mereka buat jalannya sendiri. Mereka paham betul bahwa memang tidak mudah untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai. Namun menyerah bukanlah pilihan. Mereka tahu bagaimana cara bertahan. Setiap kemunduran dipandang sebagai peluang untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Orang yang tangguh secara emosi tahu bahwa untuk mencapai suatu tujuan, mereka harus mengikuti proses dan memercayai diri mereka sendiri.

Keempat, optimisme (optimism). Dalam situasi perjuangan, kadang sulit menemukan sisi positif keadaan. Namun orang yang tangguh secara emosi mampu menemukan hal-hal positif yang terkubur di antara situasi sulit tersebut. Mereka memiliki keyakinan yang teguh pada kekuatan mereka dalam melewati apa saja. Orang yang tangguh secara alami mampu menjelaskan kesulitan dalam istilah yang optimis, untuk menghindari jatuh ke dalam ketidakberdayaan. Karena itu, mereka dapat beralih dari ketakutan dengan cepat dan membuat keputusan yang luar biasa.

Ashley Elizabeth kemudian memberikan 13 tips untuk menjaga ketahanan emosi yaitu:
  1. Menenangkan pikiran dan menemukan keheningan di tengah-tengah kekacauan hidup sehingga mampu mengelola emosi yang sulit ketika mereka muncul.
  2. Menerima apa adanya kenyataan yang terjadi termasuk mengakui adanya sesuatu yang tidak beres.
  3. Bersedia melihat kekacauan sendiri dan kemudian berpikir apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
  4. Menjadikan cinta pada diri sendiri baik segi fisik maupun pikiran sebagai prioritas sehingga tidak lupa merawat diri di sela-sela menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
  5. Mengelilingi diri sendiri dengan lingkungan/orang-orang yang positif.
  6. Meminta bantuan kepada orang lain untuk mendapat dukungan atau umpan balik.
  7. Merangkul rasa takut dan tidak berusaha melarikan diri darinya.
  8. Belajar dari kegagalan sehingga tidak  melakukan kesalahan yang sama lagi.
  9. Menetapkan tujuan hidup yang kuat, yang dapat memotivasi untuk bangkit dan maju pada saat menghadapi kesulitan.
  10. Menemukan sisi humor dari keadaan yang sulit (menertawai diri sendiri).
  11. Menggerakkan tubuh untuk membuang energi negatif.
  12. Mengungkapkan diri kita apa adanya dan tidak takut untuk terlihat sepenuhnya sehingga menjadi orang yang lebih kuat secara mental. 
  13. Mengembangkan kepandaian atau kecerdasan menemukan solusi.
Duh Gusti, kiranya Engkau meneguhkan ketahanan emosiku yang masih rentan ini.
Newest Post
Comment policy: Silakan tulis komentar sesuai dengan topik postingan. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar