Skip to main content
suharso.net

follow us

Rindu Ayah

Tahukah Anda lagu berjudul "titip rindu buat ayah"? Yang seperti ini syairnya:

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia


Bagi saya, lagu karangan Ebiet G. Ade tersebut adalah sebuah mahakarya luar biasa. Kesenduan syairnya betul-betul menyentuh kedalaman hati. Saya rela disebut laki-laki cengeng. Bagaimana tidak? Tak jarang saya gagal menahan tetesan air mata saat mendengarkannya. Lagu itu membawa saya mengembara. Mengenang kembali masa lalu. Jauh ketika saya masih kecil di kampung halaman. Sewaktu bapak saya masih muda dan gagah. Dengan bahunya yang dulu kekar itu.

Sosok ayah yang tergambar dalam syair lagu Ebiet itu begitu persis dengan bapak. Iya. Bapak saya. Bapak adalah sosok tangguh yang sangat saya kagumi. Terutama dalam menjalani takdir dengan segala keterbatasannya, sebagai kepala keluarga yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Yah, saya lebih suka menyebut buruh tani sebagai pekerjaan beliau. Karena nyatanya, beliau memang bukan petani yang selayaknya. Bukan petani yang bisa jadi juragan kacang atau pemasok beras, jagung, kedelai dan sejenisnya. Bukan. Beliau hanya petani yang hasilnya hanya cukup untuk dimakan sendiri. Malahan kadang kurang.

Untuk sekadar menambah penghasilan, pekerjaan apa saja beliau lakoni. Mencari tunggak kayu bakar, menjadi tukang pukul batu, buruh angkut batu dan pasir, juga tukang kayu pernah dijalaninya. Ada juga pekerjaan serabutan lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang cukup memeras fisik dengan hasil tak seberapa. Untuk sekadar membayangkan bagaimana letih perjuangannya pun kini saya tak sanggup.

"Yang penting anakku sekolah," begitu prinsip beliau. Gali lobang tutup lobang adalah hal biasa. Sebidang tanah garapan yang beliau miliki pun rela dijual. Hanya untuk menutup biaya sekolah saya, anak satu-satunya yang manja ini. Padahal itu pula satu-satunya lahan untuk menyambung hidup yang bapak punya.

Beliau percaya, "Gusti ora sare." Gusti Allah tak pernah tidur. Apalagi mengabaikan hamba-Nya yang mau berusaha. Tidak mungkin!

Kini, sosok itu tak lagi gagah dan kekar. Gambaran keras perjuangan bapak masih terlihat jelas pada tubuhnya yang tampak menua. Tapi bukan berarti beliau lantas jadi sosok yang lemah. Bukan. Di usianya yang sudah senja dan terbaring sakit saat saya jenguk pun, beliau tetap tegar dan sabar. Bahkan tak mau menunjukkan entah sakit seperti apa yang dirasakannya itu kepada saya, anaknya yang mudah mengeluh dan sok merasa kebanyakan beban ini.

Duh Gusti Allah yang Maha Penyayang, sayangilah bapakku, juga ibuku. Sebagaimana mereka menyayangiku dari kecil hingga kini.

Aamiin.

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar