Skip to main content
suharso.net

follow us

Hari Spesial Buat Ibu

Tanggal 22 Desember menjadi hari istimewa bagi para ibu di Indonesia. Sudah sejak pemerintahan Presiden Soekarno, semua warga negara Indonesia diajak untuk mengenang jasa ibu pada hari tersebut. Tentu kita semua sepakat, selayaknya jasa ibu tak cukup hanya dikenang dalam sehari saja. Setiap saat, sepanjang waktu, semestinya kita tak boleh lupa jasa ibu. Sebab, kita semua terlahir dari rahim seorang ibu. Juga dirawat dan dibesarkan lewat ketulusan seorang ibu. Doa dan kasih sayang ibu menyertai langkah kita sepanjang hayat. Bagi seorang ibu, hidup kita jauh lebih berharga dibanding nyawanya sendiri. Apa lagi yang kurang?

Bagi saya pribadi, ibu atau emak saya memang luar biasa.

Saya teringat, betapa khawatirnya ibu di saat saya sakit sewaktu kecil. Dikompres, dipijit-pijit, diusap-usap, dielus-elus dan didekapnya erat-erat badan saya agar rasa sakit itu berkurang. Bila perlu, berpindah saja rasa sakit saya itu ke raganya. Ditungguinya saya sepanjang malam. Rasa kantuk dan lelah tak membuatnya menyerah.

Kondisi keluarga yang serba terbatas, tak membuat ibu saya abai soal makanan anaknya. Sewaktu keluarga kami masih makan nasi thiwul (dari ketela pohon) dan nasi jagung, selalu disediakannya sedikit nasi putih hanya untuk saya. Sebab, nasi thiwul dan jagung, selain rasanya kurang enak, juga susah untuk ditelan.

Kadang saya dibelikan susu. Meski saat membuatnya lebih banyak porsi gula dibanding susunya, yang penting saya tahu rasanya susu. "Biar ada tambahan gizi," kata ibu. Biar juga lumrah seperti anak-anak lainnya. Jika ada buah, mangga misalnya, ibu hanya mengupasnya untuk saya. Tak pernah ia ambil sedikitpun. Ibu juga tahu saya suka sekali buah srikaya. Dicarinya buah itu sembari mencari rumput atau pergi ke sawah, lalu diperam dan jika sudah matang, dibawalah buah itu sebagai kejutan untuk saya. Bahagia sekali rasanya.

Tak lupa, ibu selalu menyisihkan uang untuk membeli roti biskuit kaleng yang juga kesukaan saya. "Biar seperti orang bule dan orang kota," katanya. Yang makannya roti. Yang bajunya bagus. Yang tampangnya terlihat lebih pintar.

Entah benar atau tidak, ibu saya percaya berkat makan roti itulah saya berhasil melewati masa sekolah dengan hasil yang lumayan memuaskan. Sungguh pemikiran yang sederhana memang. Tapi itu menunjukkan betapa besar tekad ibu agar saya jadi anak pintar dan kelak bisa jadi “orang”.

Soal tekad mewujudkan anaknya agar jadi pintar tersebut, lebih-lebih lagi. Ibu saya tak pernah sekolah. Ia belajar sendiri membaca dari sebuah buku butut tentang pelajaran membaca. Saya sudah lupa judul bukunya. Yang jelas, ibu saya kemudian memang bisa membaca. Sedikit-sedikit. Berbekal kemampuan itulah, beliau kemudian mengajari saya membaca.

Saya tak pernah sekolah TK. Langsung masuk SD tanpa bekal kemampuan baca tulis sedikitpun. Sudah pasti sewaktu kelas satu SD saya tertinggal jauh dibanding teman-teman saya. Tapi hebatnya, ibu sayalah yang membuat saya akhirnya bisa membaca. Bahkan terus menanamkan disiplin belajar, meski hanya diterangi lampu teplok minyak tanah seadanya. Waktu itu belum ada listrik di kampung saya. Sampai akhirnya saya mengerti sendiri akan tanggung jawab belajar. Hanya tinggal beliau pantau saja saat jam-jam belajar yang sudah ditentukan. Juga tinggal beliau pantau saja perkembangan nilai raport saya. Nilai-nilai semangat untuk terus belajar itulah yang masih terus saya pegang, hingga kini.

Yang tak kalah penting adalah soal doa ibu. Memang ibu saya bukanlah ahli agama, tapi beliau termasuk sosok yang rajin sholat dan tak bosan berdoa untuk anaknya. Saya punya keyakinan yang kuat, berkat doa-doa beliaulah saya dipermudah Tuhan dalam banyak hal. Dalam bersekolah, dalam bekerja, dalam berkeluarga, dalam bermasyarakat, dan dalam berbagai urusan lainnya. Karena itu, saya selalu memohon didoakan ibu dalam setiap hal penting yang akan saya lakukan. Dan sudah pasti ibu rela bangun tengah malam, untuk mendoakan saya dalam keheningan. Di saat Tuhan membuka pintu lebar-lebar bagi hamba-Nya yang meminta dengan sepenuh doa.

Sampai sekarang pun, tiap kali saya menelepon ibu, hanya kalimat doa dan harapan yang selalu tak lupa beliau ucapkan. Harapan agar anak cucunya mendapat keberkahan, mendapat kebaikan dan juga kemanfaatan dunia akhirat. Sambil terbata-bata, menahan tangis dan rindunya yang menggelora, kepada kami, anak cucunya.

Tak salah rasanya Bang Haji Rhoma Irama menciptakan lagu “Keramat” sebagai penghargaan terhadap seorang ibu. Saya suka sekali mendengarkannya. Iramanya kuat, liriknya amat mengena. Selami saja syairnya berikut:

Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja
Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua


Selamat Hari Ibu! Sayangilah ibu kita, dan doakanlah agar ia disayang Tuhan selalu.

You Might Also Like:

Newest Post
Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar