Skip to main content
suharso.net

follow us

Melawan Rasa Khawatir Berlebihan

Pernahkah Anda mengalami khawatir luar biasa? Khawatir atau cemas adalah sejenis perasaan negatif yang muncul karena bayangan buruk pengalaman masa lalu. Atau bisa juga disebabkan oleh terbatasnya gambaran situasi yang akan kita hadapi tepat di depan kita.

Misalnya saja, saya berpengalaman buruk dipalak di Terminal Senen. Akibatnya, saya terus berperasaan negatif (khawatir) ketika harus ke terminal itu. Meskipun setelah sekali kejadian pemalakan itu, saya tak pernah mengalaminya lagi saat beberapa kali terpaksa naik bus dari tempat itu. Parahnya lagi, kekhawatiran saya malah bertambah tinggi ketika kemudian saya mendapat informasi bahwa di sekitar lokasi terminal itu memang merupakan sarangnya para preman. Benar tidaknya saya tak pernah membuktikan. Namun imajinasi saya membayangkan betapa seramnya kalau informasi itu benar adanya.
"Pengalaman buruk ditambah imajinasi negatif makin memperparah tingkat kekhawatiran itu. Kita jadi tidak nyaman berada pada suatu tempat atau situasi, padahal mungkin sebenarnya tidak ada hal yang berbahaya."

Dulu saya sering mengisi materi diklat di unit pelatihan instansi saya bekerja. Pernah juga beberapa kali mengisi pelatihan persiapan sertifikasi profesi bidang audit internal yang saya tekuni. Meski telah beberapa kali melakoninya, tetap saja rasa deg-degan itu muncul. Biasanya, rasa khawatir jadi makin tinggi ketika saya tak tahu persis siapa yang akan diajar. Atau sebaliknya, saya mendapat informasi bahwa yang akan diajar adalah kalangan pejabat atau para senior yang sudah matang pengalaman. Tentu sulit menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan dilontarkan orang-orang yang jam terbangnya tinggi. Belum lagi memikirkan materi macam apa yang layak buat mereka.

Yang kemudian terjadi adalah rasa khawatir terus muncul berseliweran. Kalau sudah seperti itu, saya malah lupa menyiapkan materi dengan baik. Akibatnya, saya tambah grogi saat benar-benar tampil. Beruntung, dalam beberapa kali pelatihan saya berjumpa dengan peserta yang konstruktif. Kalau tidak, apa jadinya!

Demikian halnya di ranah pekerjaan. Saya yang perfeksionis merasa begitu khawatir tatkala di tempat tugas baru, dan belum genap satu bulan di situ, tiba-tiba diberi tugas mereviu beberapa unit kerja yang benar-benar asing. Waktunya hanya dalam satu kali penugasan sekaligus. Terlebih saya ditunjuk sebagai ketua tim di salah satu objek reviu itu.

Saya khawatir tak menguasai substansi, tak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, atau tak bisa berkontribusi dalam tim. Dan lebih parah lagi, gagal mendeteksi kesalahan yang mungkin saja terjadi. Padahal tujuan inti reviu itu adalah meyakinkan tidak adanya kesalahan pada objek yang kita reviu. Atau memperbaiki segera jika ada kesalahan yang ditemukan. Fatal bukan, kalau saya gagal? Maka perasaan saya menolak keras. Rasa khawatir terus berkecamuk mengganggu pikiran. Sampai-sampai tidur pun tidak nyenyak. Stres. Saya pun terpaksa protes pada bos!

Namun pada satu titik waktu, secara sadar saya coba ubah pikiran di otak saya. Saya pikir, semua orang di tempat kerja saya itu tentu pernah mengalami fase seperti saya. Dan mereka baik-baik saja. Lantas pelan-pelan saya pelajari materi dan regulasi yang relevan dengan tugas reviu itu. Sesekali saya bertanya pada kawan yang saya anggap lebih tahu. Saya mulai paham, walau saya tahu masih banyak hal yang belum saya tahu.

Dan mulailah saya kerjakan tugas semampu saya. Toh ada kawan satu tim yang bisa mengerjakan hal lain sesuai pembagian tugas. Bisa saling melengkapi. Tentu saya tetap berupaya seoptimal mungkin.

Tiap saat saya tanamkan monolog dalam batin, “Tugasmu berusaha saja, selebihnya serahkan pada yang di atas. Semua akan berlalu pada waktunya.” Akhirnya memang tugas itu berjalan seiring berlalunya waktu. Rasa khawatir saya pun mulai turun. Saya coba nikmati saja prosesnya. Rileks. Hasilnya? Saya pasrah. Semoga baik-baik saja!

Dari pengalaman-pengalaman tadi, saya membuktikan bahwa kekhawatiran berlebihan benar-benar kontra produktif. Ia bisa bikin malas, capek, frustasi, konflik, bahkan bisa berujung pada kegagalan.

Rupanya saya menemukan artikel yang sejalan dengan pengalaman saya itu. Judulnya Worry: 3 Reasons Why It’s Killing Your Success. “Kekhawatiran yang berlebihan bisa jadi penghambat kesuksesan!” begitulah pesan yang saya tangkap. Menurut Aaron Force, sang penulis artikel itu, ada tiga alasan yang membuat rasa khawatir berlebihan bisa menghambat kesuksesan kita.

Pertama, kekhawatiran berlebih dapat membuat kita kehilangan momentum dan lupa untuk fokus pada sasaran utama yang kita tuju. Perhatian kita dialihkan untuk memikirkan berbagai skenario buruk (kesalahan-kesalahan). Lalu sibuk berpikir bagaimana mencegah atau mengatasi andai skenario buruk itu benar-benar terjadi. Pikiran jadi banyak bercabang dan tindakan kita juga tidak terarah. Padahal, salah satu kunci sukses adalah adanya fokus yang dijaga secara konsisten.

Kedua, rasa khawatir adalah magnet penarik hal-hal negatif. Kegemaran mengkhawatirkan hal-hal kecil dapat menarik lebih banyak lagi hal-hal negatif dalam hidup kita. Semakin membesar! Selanjutnya energi yang terpancar seolah membawa situasi makin terasa buruk. Perlu diingat, apa yang kita pikirkan itulah yang seringkali terwujud jadi kenyataan. Tak terkecuali bayangan-bayangan buruk. Ngerinya, kenyataannya bisa saja jauh lebih buruk dari yang kita perkirakan.

Alasan terakhir, ini sangat erat hubungannya dengan aspek spiritual. Tuhan menyesuaikan dengan persangkaan hamba-Nya. Jika terus saja berprasangka buruk, kita akan mengalami spiritual block. Spiritualitas kita terkunci. Akibatnya, kita sulit menerima tanda-tanda positif yang ditunjukkan oleh Tuhan lewat alam semesta. Semesta seolah tersaji begitu suramnya di depan kita. Dan lagi-lagi, pintu menuju sukses makin tertutup rapat buat kita.

Rasanya tak ada lagi alasan untuk terus bertahan dalam kekhawatiran. Ketika ia mulai menghampiri, baiknya kita segera berbalik, lalu membangun prasangka positif selagi kekhawatiran itu belum benar-benar membunuh asa! Setuju tidak?

You Might Also Like:

Newest Post
Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar