Skip to main content
suharso.net

follow us

Sekadar Penjajahan Intelektual

Tiba-tiba saya membayangkan, seandainya semua guru besar seluruh universitas di negeri ini mampu menghasilkan satu buku populer saja tiap tiga tahun sekali, betapa melimpahnya referensi bacaan berbahasa Indonesia yang bisa kita nikmati. Dan kita patut menjadikannya sebagai referensi terpercaya, karena buku-buku itu merupakan karya insan sekelas profesor doktor, orang yang semestinya tak diragukan lagi kompetensi akademisnya.

Dengan begitu, mungkin juga para akademisi kita bisa lepas dari bentuk penjajahan baru, saya suka menyebutnya 'penjajahan intelektual', melalui kungkungan tetek bengek kaidah menulis ilmiah dengan embel-embel internasional. Padahal semua itu cuma aturan main duniawi, bukan semacam kitab suci yang pantang diutak-atik lagi.

Saya amat menanti era Indonesia menjadi kiblat atau referensi baru peradaban dunia. Para profesor doktorlah yang layak memeloporinya melalui tulisan bebas buah pikirannya sendiri.

Ah, tapi godaan menjadi narasumber, komentator, atau konsultan memang jauh lebih menggiurkan. Itu bisa jadi batu loncatan untuk menduduki berbagai posisi strategis di negeri ini. Bisa jadi menteri, anggota dewan, komisaris BUMN, atau jadi pimpinan lembaga negara. Pokoknya jabatan top lah! Dan sudah banyak yang membuktikannya.

Saya saja sejujurnya juga mau. Tapi, jangankan menjadi profesor doktor, mengenang permainan mengejar gelar 'master' saja masih menyisakan trauma tersendiri. Lagi-lagi, memang tak enak jadi korban penjajahan intelektual.

Uwis lah... pamit dulu...

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar