Skip to main content
suharso.net

follow us

Selamat Tinggal Bahagia Lama, Selamat Datang Bahagia Baru!

Sebuah pesan WhatsApp berisi ucapan selamat mutasi mengejutkan saya saat masih berada di bus dalam perjalanan pulang kerja akhir tahun 2017 lalu. Nama saya tercantum dalam daftar mutasi. Meski mutasi buat saya hanya berarti pindah lantai dalam satu gedung yang sama, sesuatu yang tak rutin sifatnya tetap saja mengejutkan.

Saya dipindahkan dari supporting unit tempat saya bekerja hampir setahun terakhir ini ke unit pelaksana tugas audit, yang boleh dibilang sebagai fungsi core business karena saya memang bekerja di kantor audit internal sebuah instansi pemerintah. Sepertinya saya akan kembali menjadi auditor. Iya, kembali saja. Sebab sebelumnya saya sudah pernah bertugas sebagai auditor sebelum akhirnya menjalani tugas belajar di Universitas Indonesia pada akhir 2015 sampai awal 2017.

Bagaimana rasanya dimutasi? Barangkali tak selalu sama bagi tiap orang. Ada yang bahagia, terharu, tegang, galau, kecewa, ataupun sedih berkepanjangan. Tergantung perspektif yang dipakainya.

Kalau saya? Tentu saja bahagia, karena dengan mutasi kali ini berarti saya berkesempatan besar untuk turut berperan langsung mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi utama organisasi tempat saya bekerja. Saya juga berkesempatan mengasah kemampuan baru sebab bidang kerja yang akan saya hadapi nanti termasuk hal baru bagi saya. Itu berarti suasana baru dan tantangan baru tentunya.

Yang juga tak kalah membahagiakan adalah, posisi jabatan saya akan segera pulih seperti sediakala setelah sekian lama distafkan karena tugas belajar. Rasa bahagia mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang itu tak ada bedanya dengan mendapatkan sesuatu yang baru.

Meski merasa bahagia, saya mencoba menahan diri untuk tak terlalu bereuforia dengannya. Bahagia sewajarnya saja sebab bahagia karena mutasi itu sebenarnya adalah salah satu contoh bentuk bahagia yang bergantung pada faktor eksternal yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan sendiri. Jika faktor eksternal berubah maka bahagia itu bisa saja lenyap seketika. 

Misalnya saja, bahagia karena tempat kerja santai, maka saat berubah sibuk jadilah muncul rasa dongkol. Bahagia karena ditugaskan di tempat yang punya banyak sumber menghasilkan uang, maka tiba-tiba bisa loyo saat sumber uang itu dihapus. Bahagia tersebab dekat dengan bos yang baik hati, lantas timbullah rasa galau saat bosnya dipindahkan. 

Begitulah, jika bahagia masih banyak dikendalikan faktor eksternal. Andaipun kita seorang pejabat tinggi, konglomerat kaya raya, atau artis nan masyhur, jika bahagia kita banyak ditentukan faktor eksternal, jangan-jangan justru kondisi sebaliknya yang kita peroleh. Lihat saja ke sekitar kita! Bisa kita saksikan ada orang yang sudah jadi pejabat tinggi tapi stres, sudah kaya raya tapi rakus, atau sudah jadi selebriti tapi bunuh diri. Kondisi yang sangat jauh dari kata bahagia, bukan?

Bicara faktor eksternal ini, jika disederhanakan, paling tidak ada dua hal yang tak bisa sepenuhnya kita kontrol. Memang tak bisa kita berlepas darinya sama sekali. Namun akan lebih baik jika kita mengurangi ketergantungan padanya agar lebih bebas berbahagia.

Faktor pertama yang sulit dikontrol adalah pandangan dan tindakan orang lain.

Sudah jamak manusia akan merasa bahagia jika dipuji, dibela, atau didukung pandangannya. Sebagai manusia, boleh saja kita lantas berharap orang lain sudi memuji, membela, dan memikirkan yang terbaik buat kita. Namun jelas kita tak akan bisa memaksanya. Orang lain punya perspektif dan pendirian mereka sendiri. Bisa jadi sama dengan kita, namun tidak mustahil juga berseberangan dengan kita. Terlalu bergantung pada pujian dan pembelaan orang lain rasanya amat menyiksa diri.

Dalam kadar tertentu, saya merasa masih suka terjebak pada pujian-pujian orang. Nah... kalau Anda, masihkah ingin terus berkeras mengejar pujian dan pembelaan orang lain?

Kembali lagi ke topik. Manusia itu makhluk sosial. Tak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Artinya, tindakan masing-masing manusia akan saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan begitu, kebahagiaan kita pun juga sangat berpotensi dipengaruhi oleh tindakan-tindakan orang lain. Meski kita menyebut diri sebagai manusia bebas merdeka, sesungguhnya itu hanya sebatas bebas menentukan pilihan tindakan kita sendiri, bukan tindakan orang lain. Kebebasan kita tetap dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Sekarang bayangkan jika kita menggantungkan kebahagiaan hanya semata pada tindakan orang lain! Betapa sulitnya meraih rasa bahagia itu karena sungguh tidak gampang mengatur tindakan orang lain. Rasanya lebih enak mengejar bahagia dari jerih payah sendiri. Ini bukan berarti kita jadi individualis. Kita tetaplah makhluk sosial namun bisa menempatkan kontrol kebahagiaan, sepenuhnya karena tindakan sendiri. Bagi saya, itulah kemerdekaan yang hakiki.

Faktor kedua yang juga sulit dikontrol adalah lingkungan sekitar tempat kita berada.

Sama halnya dengan pandangan dan tindakan orang lain, kondisi lingkungan juga berpengaruh kuat terhadap terciptanya rasa bahagia dalam diri kita. Bekerja di ruangan yang luas, dingin ber-AC, dan tertata rapi pasti lebih menyenangkan dibanding bekerja di tempat yang sempit, pengap, panas lagi berantakan. Tinggal di lingkungan elit rasanya lebih enak daripada tinggal di daerah kumuh.

Tapi perlu diingat pula, ada kondisi-kondisi lingkungan tertentu yang tidak bisa kita kontrol. Cuaca buruk yang memaksa delay pesawat yang kita tumpangi, banjir yang menggenangi sekitar rumah kita, demo yang menghalangi jalanan, kegaduhan di media sosial, inflasi yang membumbungkan harga, intrik politik yang tidak elok, dan konflik SARA yang menegangkan adalah sedikit contoh situasi yang di luar kendali kita sebagai pribadi. Dan sudah pasti kita tidak nyaman karenanya.

Bisakah kita tetap bahagia berada dalam lingkungan seperti itu? Bisa saja, asalkan suasana batin kita tak terpengaruh olehnya. Lagi-lagi, kita memang harus berupaya lepas dan ikhlas menerima lingkungan apa adanya. Untuk hal ini, bolehlah kita berprinsip 'semua akan berlalu pada waktunya'.

Ah, jadi melebar kemana-mana! Pokoknya, urusan mutasi, rezeki, jodoh, dan mati itu bagian dari skenario Tuhan Yang Mahakuasa. Kalau pilihan berbahagia, itu hak saya. Selamat tinggal bahagia lama, selamat datang bahagia baru!

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar