suharso.net

follow us

Sisi Gelap dan Terang Kemajuan Teknologi

Pada masa sekarang ini, teknologi berkembang demikian pesat, bak derasnya air bah yang mengalir tak terbendung lagi. Keberadaannya terasa makin mendominasi dunia dan berpengaruh masif terhadap perubahan dan kemajuan peradaban. Perkembangan teknologi yang paling nyata dan mudah dirasakan adalah dalam hal otomatisasi mesin atau robot. Otomatisasi ini dirancang untuk mempermudah, mempercepat atau bahkan menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang semula dilakukan oleh manusia.

Industri pembuatan mobil, pabrik alat elektronik, industri kimia dan plastik, serta produksi makanan dan minuman dalam kemasan merupakan sebagian contoh nyata sektor yang telah banyak memakai teknologi otomatisasi dalam proses produksinya. Diperkirakan, penggunaan otomatisasi mesin atau robot ini akan makin meluas ke berbagai bidang termasuk ke sektor jasa seperti kedokteran, marketing, hukum, psikologi, akuntansi dan keuangan.

Bahkan sampai pada urusan-urusan kecil pekerjaan rumah tangga semacam menyetrika dan melipat pakaian, menyiapkan makanan, memotong rambut, membereskan rumah dan menjaga anak pun berpotensi tinggi untuk dikerjakan oleh mesin atau robot otomatis. Malahan, kini kecepatan perkembangan otomatisasi jadi semakin tak terduga lagi berkat ditopang kemudahan akses teknologi informasi dan internet oleh berbagai kalangan masyarakat. Maka masuklah kita pada era otomatisasi dan digitalisasi.

Tak dapat dipungkiri, otomatisasi melalui mesin atau robot memang banyak menyumbang manfaat bagi umat manusia. Mesin atau robot bekerja makin cepat dan cermat jauh melampaui kecepatan dan kecermatan kerja normal manusia. Dengan kemampuan semacam itu, mesin atau robot dapat menghasilkan output dengan jumlah berlipat ganda dibanding yang dihasilkan manusia. Dari sisi kualitas, hasil kerja mesin atau robot pun relatif lebih terjamin akurasi atau ketelitiannya. 

Mesin atau robot dapat bekerja secara konsisten sehingga sangat membantu manusia dalam mengerjakan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Kita memaklumi, manusia seringkali tak mampu menjaga konsentrasi dan konsistensi kerja terutama jika dihadapkan pada gangguan suasana hati atau lingkungan sosial. Kita juga tahu, manusia tak mungkin bekerja secara terus menerus tanpa beristirahat. Kelemahan tersebut dapat ditutup oleh mesin atau robot yang mampu bekerja selama 24 jam tanpa kenal lelah. 

Dari segi biaya, penggunaan mesin atau robot diperkirakan dapat menghemat pengeluaran uang dalam jumlah signifikan karena terjadi pemangkasan rantai produksi serta pengurangan konsumsi waktu dan tenaga manusia dalam jumlah besar. Bayangkan, suatu saat sebagian besar proses produksi, pengemasan, dan pengangkutan telah dilakukan oleh mesin. Marketing bisa dilakukan lewat media online. Selanjutnya dalam proses jual beli, penjual dan pembeli pun dapat langsung berhubungan melalui fasilitas teknologi digital tanpa ada batasan geografis dan waktu. Tentu banyak biaya yang bisa dihemat.

Hebatnya lagi, dengan dilengkapi teknologi artificial intelligence, mesin atau robot dapat diprogram untuk membantu proses pengambilan keputusan yang memerlukan analisis yang rumit. Data yang besar, beragam format dan tersebar di berbagai lokasi tak lagi jadi soal. Semuanya dapat ditarik dan diolah dengan cepat dan mudah melalui program aplikasi.

Pendek kata, adanya teknologi otomatisasi dan digitalisasi sangat membantu manusia untuk dapat bekerja lebih produktif dan efisien dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Namun demikian, kemajuan teknologi otomatisasi dan digitalisasi tersebut tak semata menghasilkan cahaya terang bagi dunia. Ada juga sisi gelapnya. Ada banyak sebenarnya. Namun yang paling sering jadi perhatian akhir-akhir ini adalah masalah penyerapan tenaga kerja. Mesin dan robot seolah menjadi bumerang bagi manusia sendiri yang menciptakannya.

Bagaimana tidak? Pekerjaan manusia banyak yang mulai ditiru oleh robot. Itu artinya manusia mesti bersaing dengan robot untuk memperebutkan lapangan pekerjaan. Kalau terbukti robot punya performa yang lebih baik, seperti telah diungkap sebelumnya, sudah pasti manusia tersingkir. Potensi manusia menganggur makin banyak. Dalam teori ekonomi, jenis pengangguran yang disebabkan oleh penggunaan teknologi modern yang menggeser tenaga kerja manusia dikenal dengan sebutan pengangguran teknologi. Masalah demikian sudah masuk dalam kategori masalah perekonomian negara secara makro.

Peluang terjadinya pengangguran teknologi ini rasanya cukup tinggi. Ambil satu contoh kasus, pemanfaatan teknologi untuk aktivitas penjualan online, misalnya. Makin gencarnya aktivitas tersebut sangat berpotensi menimbulkan ledakan angka pengangguran jika akhirnya usaha-usaha penjualan ritel konvensional kalah bersaing lalu gulung tikar dan memulangkan banyak karyawannya.

Beberapa riset perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat sebelumnya juga telah memprediksi potensi pengangguran teknologi. Misalnya, Carl Benedikt Frey dan Michael Osborne dari University of Oxford, berdasarkan riset mereka pada tahun 2013, memperkirakan sekitar 47 persen dari pekerjaan di Amerika Serikat berpotensi tinggi digantikan oleh robot komputer. Laporan tahun 2016 yang diterbitkan oleh salah satu komisi yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) –The Learning Generation– menyebut hingga tahun 2030 separuh dari pekerjaan di seluruh dunia atau sekitar dua miliar pekerja akan hilang akibat otomatisasi.

Sungguh ini merupakan risiko yang tak boleh dipandang remeh, terutama oleh Indonesia, negara yang sebagian besar rakyatnya belum mengenyam pendidikan tinggi dan sistem kerjanya masih mengandalkan pola padat karya.

Dalam liputan beberapa media, Presiden Jokowi dan beberapa menteri juga sudah mulai waspada. Dengan mengutip perkiraan International Labour Organization (ILO), Presiden mengingatkan potensi hilangnya 56 persen lapangan pekerjaan di negara-negara ASEAN termasuk Indonesia akibat otomatisasi dan robotik sehingga perlu gerak cepat untuk mengantisipasinya (detik.com, 17/11/2017).

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, "Kami khawatir melihat kemungkinan bahwa penciptaan lapangan kerja akan terganggu dengan tren teknologi, karena ada teknologi yang menciptakan disruption” (cnnindonesia.com, 4/12/2017). Menteri lain yang juga memberi perhatian terkait dampak teknologi ini adalah Hanif Dakhiri, Menteri Tenaga Kerja. Menurut Hanif, kehadiran teknologi digital tak bisa dihindari, yang penting pengusaha, pekerja dan pemerintah mengantisipasi dampak ketenagakerjaannya (tribunnews.com, 11/10/2017). Sepertinya ucapan Menteri Hanif itu benar adanya. Apapun yang terjadi, upaya-upaya untuk mengambil langkah mundur hanya akan sia-sia. Menghalangi berkembangnya pemanfaatan teknologi adalah langkah bunuh diri.

Jika diselisik, sesungguhnya masalah pengangguran itu terjadi lantaran pertumbuhan lapangan kerja baru tak sebanding dengan hilangnya lapangan kerja yang digantikan oleh teknologi. Karena itu, kunci penyelesaiannya adalah dengan memperbanyak inovasi dan kreativitas dalam menciptakan peluang baru yang mampu menutup lapangan kerja lama yang musnah akibat teknologi. Kreatif menciptakan pekerjaan baru!

Pekerjaan baru itu tentu saja harus relevan dengan kebutuhan manusia sesuai zamannya. Ingat, sifat dasar manusia adalah tak mudah puas. Dan kebutuhannya tidak statis. Jika teknologi makin canggih, kebutuhan dan keinginan manusia pasti makin lebih tinggi standarnya. Selalu saja ada kebutuhan baru dari munculnya teknologi baru. Perhatikan saja! Sebelum dikenal software canggih, tak ada profesi programmer. Sebelum ada smartphone, tak terbayang ada powerbank seperti sekarang. Kini, kita tak asing lagi dengan programmer dan powerbank. Terbukti selalu ada peluang baru dari teknologi baru, bukan? 

Lagi pula manusia memiliki sifat atau ciri khas yang sampai saat ini rasanya belum tergantikan oleh mesin atau robot. Selain sisi inovasi dan kreativitas, manusia memiliki dimensi sosial, komunikasi, kepemimpinan, emosi dan sisi-sisi humanis lainnya yang masih bisa dieksplorasi. Pekerjaan-pekerjaan rutin biarlah mesin yang mengerjakannya. Sudah saatnya manusia memanfaatkan kapasitas otak mereka secara optimal untuk hal-hal yang lebih besar. Biar tak ada lagi istilah 'otak nganggur'. Jangan terlalu paranoid dengan kemajuan teknologi!

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar