suharso.net

follow us

Singgah di Jembatan Barelang yang Megah

Bulan Agustus ini saya mendapat kesempatan berkunjung ke Kota Batam. Bagi saya, ini merupakan kunjungan yang pertama. Kota yang dikenal sebagai tempat membeli barang-barang elektronik dengan harga murah ini mempunyai sebuah landmark yang cukup terkenal, yaitu jembatan Barelang. Dari hasil pencarian di internet, nama Barelang itu rupanya merupakan akronim dari Batam-Rempang-Galang, yaitu tiga pulau besar yang berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Sesuai namanya, konon jembatan ini dirancang untuk menghubungkan tiga pulau besar itu serta beberapa pulau kecil lainnya.

Saya bersama teman-teman seperjalanan tertarik untuk menyaksikan secara langsung kemegahan ikon kota Batam yang sangat terkenal itu. Kami serombongan menyewa sebuah mobil Toyota Avanza untuk menuju lokasi yang kami tempuh dalam waktu hampir satu jam dari kota Batam.

Katanya jembatan Barelang ini terdiri dari enam ruas jembatan. Namun karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat melewati empat ruas jembatan untuk kemudian berhenti di sebuah pantai di Pulau Rempang yang bernama Pantai Melayu. Setelah sejenak menikmati hembusan angin siang bolong di pinggir pantai tersebut, kami kembali lagi dan singgah di jembatan pertama yang memang paling terkenal dibanding lima jembatan lainnya.

Jembatan pertama ini terkenal karena memiliki desain yang unik dan megah. Dari tampilan fisik, ia berbentuk jembatan gantung dengan model cable stayed yang menjuntai dengan megahnya. Bila dilihat dari jauh, jembatan ini nampak seperti jaring raksasa berbentuk dua segitiga yang berjejeran. Konon ada yang mengatakan bahwa struktur dan model jembatan ini mirip dengan Golden Gate Bridge di San Fransisco, Amerika Serikat. 

Lewat di atas jembatan ini semakin membuat saya berdecak kagum. Ternyata jembatan ini berukuran sangat panjang, lebih dari 600 meter. Jembatan ini juga cukup lebar. Sayangnya di sepanjang pinggiran jembatan ini dipasang banyak penghalang (barriers) sehingga lebar jalan yang bisa dilewati kendaraan terasa lebih sempit.

Rupanya penghalang ini dipasang untuk mencegah kendaraan yang akan berhenti dan parkir di tengah-tengah jembatan. Maklum, saat melewatinya pasti kita akan tergoda untuk berhenti di tengah jembatan untuk sekedar berfoto atau melihat pemandangan sekitar berupa hamparan laut yang memukau. Apalagi di situ juga ada beberapa gerobak pedagang makanan dan minuman yang mangkal di tepian jalan sepanjang jembatan. Berjualan di atas jembatan? Iya, sebuah pemandangan yang agak aneh menurut saya. Sempat juga kami tergoda untuk berhenti. Namun begitu melihat ada tanda larangan parkir, kami memilih untuk terus berjalan.

Beruntungnya kemudian, kami menemukan sebuah plaza terbuka yang memang disediakan khusus untuk menyaksikan jembatan itu dari jarak yang lumayan dekat. Dari arah Kota Batam, plaza ini berada di kiri jalan tepat sebelum jembatan. Posisinya agak menanjak dari arah jalan raya. Kami pun menuju lokasi ini.

Di area plaza terbuka ini tersedia beberapa fasilitas seperti panggung, tempat parkir, dan sebuah tugu yang didesain sedemikian rupa bertuliskan BARELANG BRIDGE BATAM. Posisinya memang sangat pas untuk mengambil foto berlatar belakang jembatan. Panggung yang terbuka sepertinya dirancang untuk tempat pertunjukan atau acara hiburan lainnya. Area parkiran di plaza ini cukup luas. Saat kami datang, area parkiran itu hanya berisi beberapa mobil karena memang kami datang bukan pada hari libur. Jadi tidak begitu ramai pengunjung. Biaya parkirnya pun cukup murah, hanya Rp5.000,00 saja untuk satu mobil.


Setelah memarkir mobil, kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk memandangi kemegahan jembatan sembari berfoto-foto. Berlatar belakang langit biru dan lautan luas, jembatan pertama Barelang ini makin indah dilihat. Rupanya di situ juga telah ada beberapa rombongan orang yang berkunjung untuk menyaksikan jembatan. Kita dijamin lebih puas memandangi jembatan dari lokasi plaza terbuka ini, karena dari sini konstruksi jembatan terlihat secara utuh dan detail. Ada pula fasilitas anak tangga yang sengaja dibangun untuk kita turun dan melihat lebih dekat ke arah jembatan.

Suasana siang yang terik dan perut yang sudah mulai lapar memaksa kami untuk segera meninggalkan lokasi. Kami pun bergegas kembali ke tempat parkir mobil. Setelah keluar dari area parkir, kami memutuskan untuk mampir di sebuah restoran seafood yang jaraknya tak begitu jauh dari lokasi jembatan. Alhamdulillah, harganya masih pas di kantong. Kami makan siang di situ. Saking laparnya, menu yang kami pesan pun habis tak bersisa.

Akhirnya siang itu kami kembali lagi ke pusat kota Batam dengan perasaan puas. Selanjutnya kami menuju Bandar Udara Hang Nadim untuk terbang kembali ke Jakarta di sore harinya.

Sampai jumpa, Batam!

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar