suharso.net

follow us

Berbelanja Sepatu Impian

Sudah lama saya mengincar sepatu merek Skechers. Sebetulnya saya sempat memilikinya sekira dua tahun lalu sebelum akhirnya raib saat sepatu itu saya tinggalkan di beranda masjid untuk menunaikan salat Jumat. Maklum, masjid di negeri ini kadang masih jadi ladang tangan-tangan jail. Ya sudahlah.

Yang jelas, saya begitu terkesan dengan sepatu itu karena ia amat ringan dan nyaman saat dipakai. Karena itu saya sangat ingin kembali membeli sepatu merek itu untuk saya pakai bepergian atau beraktivitas santai menggantikan fungsi sandal. Sayangnya, keinginan itu selalu tertunda realisasinya karena banyaknya aktivitas, di samping memang isi kantong sedang diprioritaskan untuk kebutuhan yang lain.

Akhirnya saya memantapkan niat untuk merealisasikan keinginan itu pasca lebaran tahun ini. Pilihan waktu ini tentu beralasan. Saya pikir, setelah lebaran suasana mal akan lebih sepi karena para pengunjung setianya banyak yang sedang menikmati liburan di kampung halaman masing-masing. Niatan itu akhirnya terlaksana kemarin.

Benar juga rupanya. Berbelanja pasca lebaran terasa amat nyaman. Supermall Karawaci, mal terdekat tempat saya dan keluarga biasa mengisi waktu libur, tak begitu banyak penunjung seperti biasanya. Setelah memuaskan anak-anak dengan melihat-lihat toko mainan, saya pun jadi lebih tenang dan santai memilih-milih dan menimbang-nimbang tipe sepatu yang akan saya beli.

Cukup lama juga saya memilih karena sepatu incaran saya itu banyak variannya dan mirip-mirip pula bentuknya. Setelah kira-kira hampir satu jam berlalu, akhirnya pilihan saya jatuh pada model GOwalk 2 warna abu-abu, jenis model yang cocok untuk dipakai jalan-jalan. Model itu saya pilih karena bagian alas kakinya saya anggap lebih aman dari kemungkinan kemasukan air selain memang harganya paling murah, karena termasuk model lama. Warna abu-abu saya pilih karena lebih kalem, seperti karakter saya tentu saja, hehe...Bahagianya hati ini kembali bisa memiliki sepatu impian.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kudustakan?
Setelah selesai membayar di kasir, giliran saya menemani istri yang juga berkeinginan membeli sepatu. Berbeda dengan saya yang konservatif, istri saya biasanya memiliki pilihan model yang lebih menarik. Kali ini dia terlihat begitu antusias ingin membeli sepatu merek Wakai. “Merek macam apa lagi itu, kok enggak pernah dengar? Atau barangkali saya yang enggak update,” batin saya yang memilih diam ketimbang bertanya dan dianggap kurang gaul.

Setelah berkeliling sebentar, saya diajak memasuki sebuah toko di lantai dasar mal yang memang khusus menjual sepatu merek Wakai. Lha dalah… saya langsung dirundung keanehan. Kenapa istri saya yang biasanya pilihannya bagus mau beli sepatu macam itu? Bagi saya, semua sepatu yang terpajang di toko yang kami masuki itu tak ada yang menarik, malahan terlihat aneh.

Tapi istri saya bilang sebenarnya merek Wakai seperti yang dijual di toko itu sudah banyak digandrungi kaum muda, bahkan yang tua pun tak kalah ketinggalan. Saya mencoba untuk mempercayainya. Dan ternyata memang toko itu tergolong tak sepi pengunjung. Ada saja yang datang dan pergi.

Saya lihat rupanya model sepatu Wakai itu terinspirasi gaya hidup ala Jepang. Sampai-sampai desain etalase tokonya pun dirancang bernuansa Jepang. Saya perhatikan sekilas, sepatu-sepatu yang terpajang itu berbahan baku seperti kanvas dan alasnya didesain sangat tipis. Kesan awal saya sih tampak aneh. Apa menariknya, wong bentuknya lembek, tipis, enggak ada gagah-gagahnya, dan begitu deh…

Satu-satunya kelebihan yang saya lihat adalah pada motif dan warnanya yang amat beragam. Bagi kaum wanita, mungkin hal itu yang jadi faktor pemikat tersendiri. Rupanya benar! Salah satu pengunjung, seorang ibu yang sudah terlihat berumur, berbincang sebentar dengan istri saya mengatakan bahwa ia selalu tertarik membeli sepatu Wakai ini karena melihat motifnya dan katanya pula, "Di rumah, saya sudah punya empat pasang!" Betapa terkejutnya saya.

Yang membuat saya makin heran, ternyata kaum Adam pun banyak yang datang dan saya perhatikan ada pula yang sudah mengenakan sepatu Wakai di kakinya. Jadi penasaran juga saya, karena awalnya saya pikir Wakai itu sepatu khusus wanita. Ternyata tidak! Makin terbukti kurang gaulnya saya ini, bukan?

Karena menunggu istri memilih-milih cukup lama, dan menyaksikan sendiri ada kaum Adam yang pakai Wakai, akhirnya saya jadi tergoda untuk menjajal sepatu itu. Apa yang sesungguhnya menarik?

Rasa penasaran saya itu segera terjawab. Ternyata bagian telapak kaki sepatu yang saya jajal begitu lentur dan lembut. Saat dipakai, sepatu itu terasa begitu ringan dan nyaman di kaki, persis seperti sepatu Skechers yang saya beli sebelumnya. Lalu saya baca, sepatu Wakai ini juga memiliki anti odor system pada bagian alas telapak kaki yang konon dapat mencegah timbulnya aroma tak sedap jika kita memakainya tanpa menggunakan kaos kaki. Harganya pun jauh lebih murah dibanding sepatu yang saya beli sebelumnya. Mulailah pertahanan iman ini runtuh perlahan!

Tak perlu waktu lama, akhirnya saya mengikuti jejak istri membeli sepatu Wakai. Mirip kata pepatah, "Sekali merogoh kocek dua pasang sepatu jadi terbeli." Biar juga terlihat lebih kekinian tentu saja. Tapi sisi konservatif saya masih saja muncul, karena pilihan warna sepatu kedua yang saya beli ini juga tetap abu-abu… hahaha, supaya mudah diperbandingkan. Sebuah justifikasi yang tak begitu logis memang. 

Kelak waktu yang akan menjawab, mana yang akan menjadi sepatu favorit saya, Skechers atau Wakai…

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar