Skip to main content
suharso.net

follow us

Tujuan bukan Utama


Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya
Penggalan lirik lagu berjudul 'Seperti Matahari' tersebut tiba-tiba terngiang di benak saya saat duduk di dalam bus di tengah kemacetan jam-jam pulang kerja. Berharap, ada pengamen yang kemudian mendendangkannya. Lagu itu adalah salah satu lagu dalam album 'Suara Hati' karya Iwan Fals yang sempat saya beli kasetnya sewaktu kuliah pada tahun 2002-an. Sarapan pagi sebelum kuliah terasa begitu nikmat ditemani alunan nada dan syairnya yang sangat indah meski diputar dengan tape recorder butut kesayangan saya kala itu.

Lirik lagu itu memang cukup menggetarkan. Yang kemudian membuat saya kembali teringat padanya kali ini adalah bagian bait yang menyitir tentang 'penetapan tujuan'.

Konsep penetapan tujuan amat lekat dengan konsep manajemen yang sering saya jumpai saat kuliah maupun saat bekerja. Seakan tak lekang oleh waktu, konsep tersebut selalu mewarnai berbagai konsep manajemen populer, seperti manajemen strategis, manajemen kinerja, dan manajemen risiko.

Konsep itu juga banyak dibahas dalam ranah psikologi. Edwin Locke dalam teorinya tentang penetapan tujuan (goal setting theory) mengungkap bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Oleh karena itu, kita perlu memulai dengan pengertian yang jelas tentang tujuan kita. Stephen R. Covey menjadikannya sebagai salah satu kebiasaan manusia efektif, begin with the end in the mind, dalam buku The 7 Habits Habits of Highly Effective People

Penetapan tujuan adalah kunci. Ketika hendak melaksanakan suatu program, proyek, kegiatan, atau bisnis, kita dibiasakan untuk memulainya dengan menetapkan tujuan-tujuan yang terukur terlebih dahulu. Dalam konteks organisasi, penetapan tujuan tersebut bermanfaat memberi arah dan panduan bagi seluruh anggota organisasi, mempermudah perencanaan dan alokasi sumber daya, dan menciptakan sarana evaluasi untuk perbaikan di masa mendatang. Tujuan yang ditetapkan secara jelas juga akan mempermudah organisasi dalam mengenali risiko-risiko yang bakal terjadi beserta strategi untuk mengatasinya. Sebagai individu, rasanya kita juga bisa memetik manfaat yang serupa.

Sekarang coba Anda perhatikan kembali penggalan lirik lagu di atas! Ada yang aneh, bukan? Tertangkap pesan yang rasanya bertentangan dengan konsep yang baru saja saya ceritakan. Lirik tersebut mengandung makna bahwa proses mencapai tujuan lebih penting daripada tujuan itu sendiri. Dengan kata lain, penetapan tujuan bukanlah sebagai kunci.

Ternyata pandangan seperti lirik lagu Iwan Fals itu tak sendirian. James Clear dalam artikel berjudul Forget About Setting Goals. Focus on This Instead juga memprovokasi kita untuk tidak terlalu fokus pada penetapan tujuan.

James Clear mengawali bahasannya dengan membedakan antara tujuan dan sistem. Dicontohkannya, bagi seorang pelatih basket, memenangi kejuaraan adalah tujuan sedangkan latihan tim tiap hari adalah sistemnya. Meski si pelatih tidak fokus mengejar kemenangan, jika ia selalu fokus untuk melatih timnya sebaik mungkin tiap hari, niscaya kemenangan bakal diraihnya. Artinya, tanpa dibelenggu oleh tujuan, bila kita konsisten menjalankan sistem secara baik maka tujuan itu akan tercapai dengan sendirinya.

Apa jeleknya terlalu fokus pada tujuan? James Clear mengidentifikasi tiga dampak negatif. Pertama, tujuan mengurangi kebahagiaan saat ini karena rasa bahagia itu harus tertunda, menunggu saat tercapainya tujuan yang mungkin baru terjadi setelah sekian lama. Akan selalu ada rasa tertekan selama tujuan itu belum tercapai.

Dampak negatif kedua, tujuan tidak selalu memotivasi dalam jangka panjang. Semangat orang bisa berhenti ketika tujuannya telah tercapai. Ia menjadi begitu bangga dan puas dengan capaiannya, lalu terlena berkepanjangan dengan hal itu. Tidak sedikit kita jumpai orang yang membangga-banggakan prestasinya di masa lalu namun kini tak berbuat apa-apa lagi. Ada juga, orang yang mengagungkan tujuannya tiba-tiba putus asa ketika di tengah jalan merasa salah langkah dan tak yakin tujuannya itu akan tercapai.

Dampak negatif ketiga, tujuan memaksa kita seolah mampu mengendalikan sesuatu yang bukan di bawah kendali kita. Kita dipaksa mampu memprediksi kejadian-kejadian di masa yang akan datang, yang sesungguhnya masih tidak pasti. Kebetulan, saya pribadi buka peramal yang ulung.

Lantas, apakah kita tak perlu menetapkan tujuan lagi? Bagi saya, ini hanyalah masalah pola pikir. Tergantung kita nyaman pada pola pikir seperti apa. Membuat daftar tujuan itu baik dan mungkin juga mudah. Banyak organisasi yang pandai merumuskan tujuan dan rencana luar biasa. Menjaga proses pencapaiannya sepanjang waktulah yang sulit.

James Clear menyarankan kita untuk tidak terkekang pada tujuan, tapi lebih fokus menjalankan sistem dan menikmati capaian prosesnya setiap saat, tak mudah patah semangat, tegar menerima kegagalan, dan siap dengan sistem yang mampu mengingatkan kita untuk terus menyesuaikan diri.

Selamat berkarya!

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar