Skip to main content
suharso.net

follow us

Kisah Tragis di Balik Terciptanya Aksara Jawa

Suku Jawa termasuk suku yang memiliki budaya khas yang patut untuk dilestarikan. Salah satu bukti budaya yang menunjukkan betapa luar biasanya suku ini tercermin dari media komunikasi tulis yang dimilikinya. Suku ini memiliki sistem tulisan sendiri yang bisa disetarakan dengan sistem tulisan terkenal di dunia seperti Latin, Arab, Cina atau Jepang.

Sayangnya sistem tulisan yang biasa disebut aksara Jawa itu kini sudah tak begitu populer, termasuk di kalangan anak muda suku Jawa sendiri. Bahkan sewaktu saya SD dan SMP pun banyak yang mengalami kesulitan untuk membaca dan menuliskannya. Ujian aksara Jawa mungkin dirasakan lebih sulit dibanding ujian matematika. Beruntung saya waktu itu mendapatkan nilai lumayan, walau sekarang ternyata sudah lupa juga bagaimana membaca dan menuliskannya. Satu hal yang paling tidak saya lupa adalah aksara Jawa itu terdiri dari 20 huruf dengan bunyi ejaan “Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Da Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga”. Tentu saya juga teringat dengan legenda asal-usulnya. Ada kisah tragis di balik terciptanya aksara Jawa tersebut.

Aksara Jawa konon diciptakan untuk mengenang kisah tragis dua orang abdi setia bernama Dora dan Sembada yang tewas bersama-sama karena saling membunuh untuk menjalankan tugas dari majikan yang sangat mereka hormati, yaitu Aji Saka. Dikisahkan, Aji Saka yang memiliki dua abdi tersebut hendak melakukan perjalanan menuju kerajaan Medang Kamulan di bawah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar. Ia mengajak salah satu abdinya yaitu Dora. Sementara Sembada diminta tetap tinggal untuk menjaga keris pusaka miliknya yang sakti dengan pesan “tidak menyerahkan keris kepada siapapun juga kecuali Aji Saka sendiri yang datang mengambilnya”.

Sesampainya di Medang Kamulan, Aji Saka dan Dora menemukan suasana negeri yang sangat mencekam karena rakyatnya takut dengan sang raja yang kejam dan selalu meminta persembahan daging manusia untuk dimakan setiap harinya. Melihat hal tersebut Aji Saka berniat menemui sang raja Prabu Dewata Cengkar untuk menjadi tumbal sebagai makanan. Setelah berhasil menemui patih kerajaan, Aji Saka dibawa menghadap Prabu Dewata Cengkar. Betapa senangnya sang raja melihat calon santapannya hari itu yang berwujud pemuda sangat tampan, sampai-sampai ia bersedia memenuhi permintaan Aji Saka sebelum dimangsanya.

Aji Saka meminta sebidang tanah seluas kain sorban yang ia bawa dan sang raja menyanggupinya karena merasa itu amat mudah untuk dipenuhi. Prosesi pengukuran pun dimulai. Prabu Dewata Cengkar sendiri yang melakukan pengukuran dengan menggelar kain yang dibawa oleh Aji Saka. Anehnya, setiap kali ditarik oleh sang raja, kain itu bertambah luas bahkan hampir memenuhi seluruh cakupan wilayah Medang Kamulan. Sang raja pun tidak sadar bahwa ia telah berdiri di tepi lautan dan saat Aji Saka mengibaskan kainnya, sang raja terjatuh ke dalam laut dan tewas tenggelam.

Mendengar berita tewasnya sang raja, rakyat Medang Kamulan bersuka cita dan bersepakat mengangkat Aji Saka menjadi raja penggantinya. Saat telah menduduki tahtanya, Aji Saka teringat akan keris pusaka sakti yang dititipkannya kepada Sembada. Oleh karena itu Aji Saka memanggil Dora dan memintanya untuk mengambil keris pusaka tersebut dengan pesan “tidak boleh kembali jika tidak membawa keris pusaka”. Dora pun berangkat menemui Sembada untuk menjalankan amanah tersebut.

Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, Dora akhirnya berhasil menemui Sembada dan menyampaikan amanat dari Aji Saka untuk mengambil keris tersebut. Namun Sembada bersikukuh untuk tidak menyerahkan keris pusaka karena bukan Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Sementara Dora pantang kembali jika tidak membawa keris pusaka tersebut. Perselisihan pun terjadi di antara keduanya dan berakhir dengan pertarungan hebat. Karena memiliki kesaktian yang sama maka keduanya tewas bersama-sama.

Aji Saka mulai menyadari ada yang tidak beres setelah beberapa waktu Dora yang diutusnya tak juga kunjung kembali. Ia pun pergi menyusul namun semua sudah terlambat karena kedua abdinya tersebut telah tewas. Aji Saka berduka dan begitu menyesali kepergian kedua abdinya. Untuk mengenang kedua abdinya itu Aji Saka lalu menciptakan huruf yang makna harfiahnya sebagai berikut:
Ha Na Ca Ra Ka - Ada utusan
Da Ta Sa Wa La - Terjadi perkelahian
Pa Da Ja Ya Nya - Sama-sama sakti
Ma Ga Ba Tha Nga - Akhirnya tewas bersama

Dora dan Sembada merupakan personifikasi manusia yang memegang teguh perintah. Dalam konteks religi orang Jawa, Dora dan Sembada adalah perwujudan manusia yang diutus Tuhannya ke bumi dan tidak dapat menolak perintah Tuhan. Mereka wajib patuh pada perintah Tuhan meski nyawa taruhannya. Namun tidak cocok juga jika kemudian kita menganggap Aji Saka sebagai perumpamaan Tuhan, karena tidak mungkin Tuhan khilaf dan memberikan perintah yang tidak sinkron.

Sebagai manusia yang bertuhan, kita wajib percaya bahwa Tuhan Maha Benar. Dia memberikan amanah yang sama kepada semua manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Kiranya lebih tepat bila kita tetap memposisikan Aji Saka sebagai manusia, tepatnya sebagai pemimpin. Dari kisah tersebut pemimpin diingatkan bahwa segala perintahnya akan berdampak bagi kemaslahatan banyak manusia. Karenanya pemimpin harus berhati-hati dalam menetapkan kebijakan agar tidak terjadi peristiwa tragis seperti yang dialami Dora dan Sembada. Ini interpretasi saya, mungkin juga Anda memiliki interpretasi yang berbeda.

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar