Skip to main content
suharso.net

follow us

Selalu Bersyukur

Hujan yang mengguyur tak kunjung henti sejak semalam membuat saya malas berangkat kerja pagi ini. Tapi status sebagai buruh negara memaksa saya untuk tetap berangkat. Ritual mandi dan berbenah saya lakukan dengan agak berat hati. Setelah membungkus sepatu kerja dan memasukkannya ke dalam tas, akhirnya saya berangkat juga dengan bersandal jepit. Untuk sekedar berlindung dari derasnya air hujan, saya buka payung warna army green yang selalu melengkapi isi tas gendong saya dari delapan tahun silam.

Tanda-tanda kemacetan mulai terasa sejak saya menaiki angkutan kota (angkot) menuju pangkalan bus yang biasa saya tumpangi ke Jakarta. Beberapa jalan nampak tergenang air dan ada yang terlihat cukup tinggi genangannya. Kondisi seperti itu membuat angkot yang saya naiki pun memilih jalur yang sedikit berbeda dari yang biasa dilaluinya.

Saya sudah menyiapkan mental, bakal berdiri berdesakan di bus sepanjang perjalanan ke kantor. Namun saya agak terkejut, sesampainya di pangkalan bus justru saya lihat sebuah bus bernomor 106 jurusan Terminal Poris-Senen belum banyak berisi penumpang. Betapa senangnya hati saya! Segera saja saya lambaikan tangan untuk menghentikannya. 

Hari memang masih gelap, ditambah lagi suasana hujan deras. Masuk ke dalam bus tanpa lampu penerangan membuat saya tak bisa dengan jelas melihat kondisi bus yang saya tumpangi itu. Yang saya heran, kursi depan yang biasanya selalu penuh itu banyak yang kosong. Kursi-kursi dekat jendela yang juga jadi tempat duduk favorit pun tak banyak yang mendudukinya. Dengan sedikit curiga, saya pilih duduk di salah satu kursi dekat jendela di deretan tengah supaya bisa tidur nyenyak di bus. Saya pikir, cukup lumayan untuk menyambung mimpi jalan-jalan ke Eropa yang terputus semalam. 

Begitu ambil posisi duduk, ternyata kecurigaan saya langsung terjawab. Kursi yang saya duduki itu basah layaknya habis tersiram banyak air. Mungkin bus itu bocor sehingga air hujan bisa tembus ke dalam. Pantas saja tak ada yang mau duduk di situ. Saya jadi mulai membaca situasi. Jangan-jangan kursi lain yang kosong itu tak diduduki lantaran memang basah. Dan ternyata benar adanya. Beberapa kursi yang saya raba memang tak layak diduduki saking basahnya. Setelah sekian kali berpindah kursi, akhirnya saya temukan juga kursi yang sedikit kering. Saya putuskan duduk di situ meski letaknya di belakang dan tidak strategis. Pasrah!

Bus yang saya tumpangi itu lalu bergerak perlahan, sembari menunggu penumpang datang. Benar saja, tak berapa lama kemudian beberapa penumpang mulai ramai berdatangan. Mereka pun mengalami kejadian yang serupa dengan saya. Terjebak di kursi basah, lalu berpindah-pindah sampai menemukan kursi yang menurut mereka lebih nyaman. Semakin lama semakin sedikit pilihan kursi yang tersisa. Sampai pada akhirnya kursi bus itu penuh juga. Kursi-kursi basah yang semula dihindari itu diduduki tanpa ada komplain. Mereka bisa duduk dengan tenang, bahkan nampak ada yang tertidur pulas. Bisa juga ya? 

Jadi, saya pikir daya adaptasi para penumpang bus itu ternyata cukup tinggi juga. Kalau bus masih kosong, bolehlah memilih-milih tempat duduk yang strategis. Kalau sudah banyak berisi, di mana saja boleh yang penting bisa duduk, meski di kursi basah sekalipun. Kalau tempat duduk sudah tak ada, pilih posisi berdiri yang bisa sambil bersandar. Kalau tak ada juga, yang penting ada pegangan untuk menjaga keseimbangan. Ingat, hanya yang bisa beradaptasilah yang tetap bisa bertahan!

Luar biasanya, semua tetap bisa dinikmati kalau kita selalu bersyukur. Yang bisa duduk, bersyukur melihat yang hanya bisa berdiri. Yang berdiri sambil bersandar, bersyukur melihat yang tak bisa bersandar. Yang cuma bisa dapat pegangan sambil berdiri, juga tetap bersyukur karena masih mampu bayar naik bus. Coba kalau mesti jalan kaki Tangerang Jakarta!

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar