suharso.net

follow us

Bersahabat dengan Bosan

Saat menjalani masa semester akhir kuliah S2 di Universitas Indonesia, saya pernah mengalami tekanan rasa bosan yang luar biasa. Bosan menghadapi mata kuliah yang materinya itu-itu saja. Bersamaan dengan menulis tesis, saya dihadapkan pada tiga mata kuliah yang kontennya mirip dan banyak bersinggungan. Tak enak juga mendengar hal yang sama dibahas berkali-kali! Apalagi jika sudut pandang dosen berbeda-beda dan kadang tidak jelas titik temunya. Ditambah pula tugas yang terus mengalir.

Sekedar informasi, saya mengambil kuliah dengan status tugas belajar, yang berarti menjalankan tugas kuliah dengan meninggalkan dunia kerja sepenuhnya sampai dengan batas waktu kelulusan.

Saya jadi membandingkan kondisi saat kuliah itu dengan kondisi saat masih aktif bekerja. Sewaktu bekerja, selepas pulang saya masih punya waktu cukup untuk beristirahat. Nah, selama kuliah, menyelesaikan tugas cukup menyita waktu malam hari saya. Belum lagi kesibukan mencari bahan dan referensi tesis. Sementara itu, seiring bertambahnya usia, kapasitas otak ini sepertinya sudah tak mampu diajak berlari kencang lagi. Rasa bosan pun kian jadi.

Apakah Anda yang sedang kuliah juga pernah mengalami rasa bosan? Yah, mungkin bagi para mahasiswa yang masih fresh, mereka tak mau menyebut dirinya bosan. Hanya perasaan lelah menanti waktu kelulusan dan ingin segera memasuki dunia yang baru. Dunia kerja!

Ingin cepat bekerja adalah impian banyak orang. Namun yang penting, jangan salah kira! Dunia kerja tak semudah teori di bangku sekolah. Kenapa? Dalam praktik kerja yang nyata, berbagai masalah dapat saja muncul dan tidak bisa dibatasi dengan asumsi-asumsi seperti dalam teori. Ada banyak deviasi, ada banyak penyesuaian, dan ada banyak pula tuntutan. Belum lagi jika sistem, pedoman, atau prosedur kerjanya tidak begitu clear.

Itu semua memerlukan seni dalam menghadapinya. "Nggak pakai teori-teorian!" kata sebagian orang. Dan ingatlah, kita bekerja dengan manusia yang tak pernah kita tahu seluruh isi hati dan pikirannya. Menantang, betul-betul menantang! Tapi kadang tantangan yang datang bertubi-tubi bisa menimbulkan kebosanan juga. 

Saya pun pernah mengalami kebosanan kerja itu. Sampai pada suatu saat saya memutuskan untuk rehat sejenak dengan berkuliah lagi, sembari menimba ilmu yang lebih tinggi. Hasilnya? Ya seperti kisah awal di atas. Hahaha...

Namun saya yakin tidak sendiri seperti itu. Ada banyak orang yang juga pernah mengalami kebosanan dalam hal apapun. Tak semata berkaitan dengan dunia kuliah ataupun dunia kerja. Dan mungkin dengan level yang lebih berat dari yang saya alami.

Lalu buat apa saya bercerita kebosanan? Apakah saya punya obat mujarab untuk mengobatinya? Tentu saja tidak! Saya bukan ahlinya. Lagipula sudah banyak resep untuk mengobati kebosanan yang ditawarkan oleh para pakar psikologi dan motivasi. Sebut saja beberapa di antaranya, misalnya: (1) menghilangkan pikiran negatif; (2) menyendiri sejenak; (3) melakukan aktivitas yang berbeda; (4) mengubah posisi ruang kerja/belajar; (5) menjalani hobi; (6) sharing dengan teman dekat; (7) kuliner; (8) berlibur; dan (9) berolahraga. Mungkin juga Anda punya resep lainnya yang lebih jitu.

Tapi tetap saja, hidup tak semudah apa kata para motivator!

Baiklah! Saya hanya ingin mengungkap satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita. Semua pengalaman yang membosankan atau menjenuhkan akan menjadi cerita heroik dan membanggakan setelah semuanya berhasil kita lalui. Kita akan dengan bangga mengenang dan mengisahkannya kepada para kolega, bawahan, junior, atau anak cucu kita.

Lantas, saat kita sedang menjalaninya, adakah rasa heroik dan bangga itu telah muncul? Kenapa kita mesti menunda rasa bangga itu?

Rasanya tak salah pula ketika mulai merasa bosan, kita bangkitkan rasa heroik dan bangga saat itu juga. Sepertinya kita harus belajar bersahabat dengan bosan, karena toh semua akan baik-baik saja dan bahkan situasi kebosanan itu dapat menjadi batu loncatan menuju ke arah yang lebih baik.

Ambil nafas... sisihkan waktu sejenak... bersahabatlah dengan bosan!

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar