Skip to main content
suharso.net

follow us

Jaga Semangat Belajar Sepanjang Hayat

Salah satu manfaat yang ingin saya peroleh dari menulis blog adalah menjaga semangat belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Pernahkah Anda mendengar istilah belajar sepanjang hayat atau disebut juga belajar seumur hidup? Saya sendiri memaknainya secara sederhana sebagai upaya manusia untuk memutakhirkan pengetahuan sepanjang hidupnya tanpa dibatasi oleh masalah usia dan formalitas pendidikan. Artinya, tak peduli berapapun usia kita, selagi masih muda ataupun saat sudah tua nanti, kita tetap perlu terus belajar. Kita bisa juga menyebutnya sebagai belajar berkesinambungan (continuous learning). Nasihat klasik yang masih lekat dalam ingatan saya adalah:
Tuntutlah ilmu (belajarlah) dari ayunan sampai liang lahat!
Dalam belajar berkesinambungan, kita tak perlu membatasi bahwa ia hanya bisa ditempuh melalui media pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi saja. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai macam media di segala tempat dan dalam segala situasi. Keteguhan kita untuk tetap belajar akan membawa kita menjadi manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Belajar juga berarti menghargai hidup kita sebagai anugerah Tuhan.

Saya tergerak untuk menerapkan lifelong learning karena dua alasan. Pertama, saya merasa ketinggalan pengetahuan setelah sekian lama bekerja dan malas membaca-baca lagi. Pengetahuan yang saya peroleh sewaktu sekolah dan kuliah sudah menguap dan kalaupun ada yang tersisa mungkin sudah tidak mutakhir lagi. Bekerja memang melenakan. Ia sering menenggelamkan kita pada rutinitas yang banyak memakan waktu. Tak terasa, perkembangan pengetahuan dan teknologi sudah semakin jauh. Untungnya saya tersadar, lalu memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Berawal dari titik itulah saya berniat menjaga konsistensi semangat belajar dan berharap tak kendor lagi untuk masa-masa yang akan datang. Karenanya saya membutuhkan media pemicu, yaitu menulis blog.

Alasan kedua, sejujurnya saya menyadari bahwa pondasi pengetahuan masa kecil saya relatif terbatas. Oleh karena itu saya perlu memperluasnya selagi ada kesempatan. Saya terlahir dari sebuah keluarga kurang mampu di sebuah kampung yang baru bisa merasakan terangnya lampu listrik saat saya menginjak masa SMA. Belajar diterangi temaram lampu senthir itu amat mengesankan.

Bisa dibayangkan, dulu saya hidup tanpa akses media televisi. Kalaupun bisa menontonnya, itu saya lakukan di rumah tetangga atau saudara yang punya televisi dengan mengandalkan sumber daya aki. Itupun hanya ada pilihan saluran televisi milik pemerintah. Saya ingat, pilihan waktu itu adalah TVRI Stasiun Yogyakarta dan Surabaya. Acara favorit saya adalah ketoprak.

Wajar ketika bersekolah SMA di salah satu sekolah terbaik di kabupaten Wonogiri, saya agak malu bergaul karena tak begitu nyambung dengan teman-teman lain yang lebih melek pengetahuan. Akses buku pun saya terbatas. Tak ada buku menarik yang saya punyai. Jangankan buku tambahan, buku pelajaran sekolah yang wajibpun cuma bisa saya fotokopi per bab dari buku milik teman. Satu-satunya hiburan keren saya kala itu adalah radio kecil merek National yang dibelikan bapak sebagai hadiah sewaktu saya sunat.


Rasanya kedua alasan di atas lebih dari cukup untuk memaksa diri saya memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik menerapkan lifelong learning? Atau jangan-jangan Anda sudah menjadi pelakunya yang telah mampu memetik berbagai hasil? Marilah berbagi! 

Kebetulan sekali saya membaca sebuah artikel menarik di Harvard Business Review yang ditulis John Coleman berjudul Lifelong Learning Is Good for Your Health, Your Wallet, and Your Social Life. Dari judulnya saja tergambar jelas bahwa belajar sepanjang hayat bermanfaat bagi kesehatan, keuangan, dan kehidupan sosial kita. 

Menurut Coleman dalam artikel itu, penelitian telah membuktikan adanya hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dan penghasilan. Artinya, orang yang berpendidikan lebih tinggi berpeluang memperoleh penghasilan lebih besar dibanding orang yang berpendidikan lebih rendah. Kalaupun ada pengecualian, pasti itu berasal dari orang-orang yang memiliki kemauan belajar keras meski bukan dari pendidikan formal. Lebih lanjut, Coleman berpandangan bahwa belajar terus-menerus dan pengembangan keterampilan berperan penting sebagai sarana bertahan dalam situasi ekonomi dan teknologi yang berkembang begitu pesat saat ini. 

Belajar menurut Coleman juga berdampak positif bagi kesehatan. Dia mencontohkan bahwa membaca mampu menurunkan level stres. Dia juga mengungkap laporan di bidang neurologi yang menyatakan bahwa aktivitas belajar dapat menunda gejala alzheimer dan mempertahankan kualitas hidup manusia. Diungkapkan pula hasil studi lain yang menunjukkan hubungan antara pendidikan dan usia hidup yang lebih panjang. Selanjutnya, dalam pengamatan Coleman, orang yang berdedikasi dalam belajar lebih banyak terlibat dalam aktivitas sosial dan profesional dibanding yang tidak.

Di bagian akhir tulisannya Coleman menyatakan, “Kemampuan kita untuk belajar adalah landasan motivasi dan kemajuan manusia.” Ditegaskannya pula bahwa andai pendidikan tidak berdampak pada kesehatan, kesejahteraan atau status sosial, ia tetap berharga sebagai ekspresi yang membuat setiap orang begitu istimewa dan unik. Apakah Anda tak ingin disebut sebagai insan istimewa?

Tulisan Coleman semakin menguatkan motivasi saya. Meski belum seberapa, saya pribadi merasakan bahwa membaca dan belajar memang membuat pikiran lebih segar dan hasilnya seringkali berguna menjawab persoalan yang terjadi di dunia kerja. Bagaimana pengalaman Anda?

You Might Also Like:

Comment policy: silakan berkomentar sesuai topik artikel. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar