Skip to main content

Ketahanan Emosi

Oleh: SuharsoPada: 2/02/2020

Memang benar. Roda kehidupan terus berputar. Jelas kita tak bisa mengatur sepenuhnya. Banyak hal yang tidak terduga. Suatu saat, bisa saja yang segalanya berjalan baik kemudian berbalik keadaan. Misalnya di kantor. Anda sudah nyaman dengan tugas Anda selama ini. Lalu tiba-tiba Anda mendapat tugas baru, yang itu merupakan warisan buruk penanggung jawab sebelumnya. Selain Anda harus belajar hal baru dengan cepat, tentu berat dibayangkan jika tugas itu ternyata menyimpan permasalahan yang datang bertubi-tubi dan Anda tidak tahu harus berbuat apa dan mulai dari mana. Alih-alih menghadapi dengan kepala dingin, emosi negatif yang lebih sering muncul. Hal ini bisa menyebabkan keadaan semakin buruk. Karena itulah, dunia psikologi mengenalkan konsep ketahanan emosi atau emotional resilien…

Ulang Tahun di Perayaan Imlek

Oleh: SuharsoPada: 1/25/2020

Tidak terasa. Hari ini Sabtu (25/01/2020), bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2571, blog ini memasuki tahun ketiga usianya sejak pertama kali dibuat. Usia yang masih belia untuk ukuran bloger pemula seperti saya. Belum ada kemajuan berarti yang sudah dicapai. Boleh dikatakan, blog ini banyak vakum sepanjang tahun lalu. Juga tahun-tahun sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan blog semacam disway.id milik penulis kenamaan Dahlan Iskan yang selalu di- update tiap hari. Tentu bukan bandingannya. Ini bukan bermaksud berkecil hati. Juga bukan bermaksud mencari alasan untuk menyerah. Tidak! Saya tidak berniat sama sekali untuk menutup blog ini. Saya yakin, tipping point akan datang pada waktunya. Suatu saat nanti. Yang penting wadah itu tetap selalu terbuka. Tinggal kemudian bag…

Hari Spesial Buat Ibu

Oleh: SuharsoPada: 12/22/2018

Tanggal 22 Desember menjadi hari istimewa bagi para ibu di Indonesia. Sudah sejak pemerintahan Presiden Soekarno, semua warga negara Indonesia diajak untuk mengenang jasa ibu pada hari tersebut. Tentu kita semua sepakat, selayaknya jasa ibu tak cukup hanya dikenang dalam sehari saja. Setiap saat, sepanjang waktu, semestinya kita tak boleh lupa jasa ibu. Sebab, kita semua terlahir dari rahim seorang ibu. Juga dirawat dan dibesarkan lewat ketulusan seorang ibu. Doa dan kasih sayang ibu menyertai langkah kita sepanjang hayat. Bagi seorang ibu, hidup kita jauh lebih berharga dibanding nyawanya sendiri. Apa lagi yang kurang? Bagi saya pribadi, ibu atau emak saya memang luar biasa. Saya teringat, betapa khawatirnya ibu di saat saya sakit sewaktu kecil. Dikompres, dipijit-pijit, diusap-us…

Rindu Ayah

Oleh: SuharsoPada: 12/14/2018

Tahukah Anda lagu berjudul "titip rindu buat ayah"? Yang seperti ini syairnya: Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa Benturan dan hempasan terpahat di keningmu Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah hm... Meski nafasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat kau tetap bertahan Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk hm... Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia Ayah, dalam hening sepi kurindu untuk menuai padi milik kita Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan Anakmu sekarang banyak menanggung beban Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini Keriput tulang pipimu …

Sekali Lulus Sertifikasi CGAP

Oleh: SuharsoPada: 11/24/2018

Alhamdulillah. Satu lagi sertifikasi profesi berskala internasional berhasil saya lewati. Setelah melalui tiga jam ujian yang menguras energi pada Rabu (21/11/2018) lalu, saya dinyatakan lulus CGAP ( Certified Government Auditing Professional ) dari The Institute of Internal Auditors (IIA). Bersyukur juga, sekali ujian langsung lulus. Capaian ini melengkapi dua sertifikat profesi yang sudah saya miliki sebelumnya, yaitu CIA dan CCSA. Begitu dinyatakan lulus dan menerima email IIA, saya langsung cek di website pengelolaan sertifikasi milik IIA. Dan benar saja. Saya sudah terdaftar sah sebagai CGAP sekaligus telah mendapat nomor sertifikat. Tinggal menunggu pengiriman sertifikat fisiknya dari IIA. Menurut keterangan yang saya peroleh dari narahubung IIA Indonesia, paling lambat 90 har…

Melawan Rasa Khawatir Berlebihan

Oleh: SuharsoPada: 2/25/2018

Pernahkah Anda mengalami khawatir luar biasa? Khawatir atau cemas adalah sejenis perasaan negatif yang muncul karena bayangan buruk pengalaman masa lalu. Atau bisa juga disebabkan oleh terbatasnya gambaran situasi yang akan kita hadapi tepat di depan kita. Misalnya saja, saya berpengalaman buruk dipalak di Terminal Senen. Akibatnya, saya terus berperasaan negatif (khawatir) ketika harus ke terminal itu. Meskipun setelah sekali kejadian pemalakan itu, saya tak pernah mengalaminya lagi saat beberapa kali terpaksa naik bus dari tempat itu. Parahnya lagi, kekhawatiran saya malah bertambah tinggi ketika kemudian saya mendapat informasi bahwa di sekitar lokasi terminal itu memang merupakan sarangnya para preman. Benar tidaknya saya tak pernah membuktikan. Namun imajinasi saya membayangkan …

Kenangan Kuliah Terakhir di MAKSI UI

Oleh: SuharsoPada: 2/10/2018

Tulisan ini saya buat di sebuah blog lama saya lebih dari setahun lalu. Ketika itu tiba-tiba saya merasa akan sangat merindukan suasana kuliah S2 di Universitas Indonesia (UI). Padahal, baru satu hari berlalu saya menyelesaikannya bersama kawan-kawan seperjuangan. Saya putuskan untuk memindahkan tulisan tersebut ke blog ini karena blog lama saya itu akan saya nonaktifkan. Meski tulisan itu tidak bagus-bagus amat, saya masih ingin terus membacanya. Sebab, dengan membacanya lagi, saya seolah terbawa kembali ke suasana akhir masa perkuliahan kala itu, yang bagi saya amat mengesankan. Beginilah yang saya tuliskan waktu itu... Alhamdulillah, syukur kehadirat Yang Mahakuasa, kemarin (8/12/2016) kami berhasil menyelesaikan sesi kuliah terakhir di kelas Magister Akuntansi (MAKSI) UI. Kela…

Sekadar Penjajahan Intelektual

Oleh: SuharsoPada: 2/10/2018

Tiba-tiba saya membayangkan, seandainya semua guru besar seluruh universitas di negeri ini mampu menghasilkan satu buku populer saja tiap tiga tahun sekali, betapa melimpahnya referensi bacaan berbahasa Indonesia yang bisa kita nikmati. Dan kita patut menjadikannya sebagai referensi terpercaya, karena buku-buku itu merupakan karya insan sekelas profesor doktor, orang yang semestinya tak diragukan lagi kompetensi akademisnya. Dengan begitu, mungkin juga para akademisi kita bisa lepas dari bentuk penjajahan baru, saya suka menyebutnya 'penjajahan intelektual', melalui kungkungan tetek bengek kaidah menulis ilmiah dengan embel-embel internasional. Padahal semua itu cuma aturan main duniawi, bukan semacam kitab suci yang pantang diutak-atik lagi. Saya amat menanti era Indonesi…